XI-1

Senin, 16 April 2012


DAMPAK POLUSI TERHADAP KESEHATAN MANUSIA DAN LINGKUNGANNYA

A.      DAMPAK POLUSI UDARA
Dampak utama polusi udara adalah sebagai berikut.
1.        Gangguan Kesehatan
Berbagai jenis polutan udara dapat menyebabkan gangguan kesehatan baik bagi manusia maupun makhluk hidup lain. Polutan-polutan udara yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan di antaranya sebagai berikut.
a.       Karbon monoksida
Di atmosfer, gas karbon monoksida (CO) ditemukan dalam jumlah sangat sedikit, yaitu sekitar 0,1 ppm. Namun, di daerah perkotaan dengan lalu lintas yang padat, konsentrasi gas CO dapat mencapai 10-15 ppm. Gas CO yang terhirup dapat bereaksi dengan hemoglobin pada sel darah merah sehingga menghalangi pengangkutan oksigen yang sangat dibutuhkan tubuh. Efek yang ditimbulkan di antaranya adalah pusing, sakit kepala, rasa mual, ketidaksadaran (pingsan), kerusakan otak, dan kematian. Gas CO yang terhirup dapat pula berdampak pada kulit dan menyebabkan masalah jangka panjang pada penglihatan.
Tabel Konsentrasi CO di udara dan pengaruhnya pada tubuh manusia bila kontak terjadi pada waktu cukup lama.
Konsentrasi CO di udara (ppm)
Konsentrasi COHb dalam darah (%)
Gangguan pada tubuh
3
0,98
tidak ada
5
1,30
Belum begitu terasa
10
2,10
Gangguan sistem saraf sentral
20
3,70
Gangguan panca indera
40
6,90
Gangguan fungsi jantung
60
10,10
Sakit kepala
80
13,30
Sulit bernapas
100
16,50
Pingsan-kematian

b.       Sulfur oksida, nitrogen oksida, dan ozon
Gas sulfur oksida, nitrogen oksida, dan ozon pada konsentrasi rendah dapat menyebabkan iritasi mata dan radangsaluran pernapasan. Seseorang yang menghirup ketiga gas tersebut dalam waktu cukup lama dapat terkena penyakit gangguan pernapasan yang kronis, seperti bronkitis, emfisema, dan asma. Penyakit-penyakit ini umumnya ditandai dengan kesulitan bernapas (sesak) akibat kerusakan organ pernapasan. Gas sulfur oksida, nitrogen oksida, dan ozon juga dapat memperparah gangguan pernapasan yang sedang diderita seseorang.
Sulfur oksida dan ozon dapat membahayakan kehidupan tumbuhan. Gas-gas tersebut bersifat racun bagi tumbuhan. Tumbuhan yang mengalami kontak dengan sulfur oksida dan ozon pada konsentrasi tertentu dapat mengalami kematian.
c.        Materi partikulat
Berbagai materi partikulat, seperti serbuk batu bara, serbuk kapas, serbuk kuarsa, dan serat asbes, dapat menyebabkan penyakit paru-paru. Materi-materi partikulat tersebut banyak terdapatdi area pabrik, konstruksi bangunan, dan pertambangan sehingga pekerja di area itu beresiko tinggi terkena penyakit yang disebabkan materi partikulat. Tingkat keparahan penyakit dapat beragam, mulai dari peradangan sampai pembentukan tumor paru-paru.
Contoh materi partikulat lain yang dapat membahayakan kesehatan adalah timbal. Timbal sangat beracun (toksik) dan dapat terakumulasi dalam tubuh, serta menyerang berbagai sistem tubuh, seperti sistem pencernaan dan sistem saraf. Timbal juga dapat merusak fungsi jantung dan ginjal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa timbal dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada hewan. Anak-anak juga lebih rentan terhadap efek timbal dibandingkan orang dewasa. Timbal dapat menyebabkan keterbelakangan mental pada anak-anak.
d.       Asap rokok
Asap rokok mengandung berbagai zat berbahaya seperti benzo-a-pyrene dan formaldehid. Zat-zat tersebut berpotensi menimbulkan bermacam-macam penyakit. Contoh penyakit yang dapat ditimbulkan oleh asap rokok adalah gangguan pernapasan, penyakit jantung, dan kanker paru-paru.
e.        Zat-zat penyebab kanker
Contoh zat-zat yang dapat menjadi penyebab kanker adalah kloroform, para-diklorobenzena, tetrakloroetilen, trikloroetan, dan radioaktif (misalnya radon). Zat-zat tersebut umumnya merupakan jenis polutan udara di dalam ruangan (indoor air pollutants) yang berpotensi menimbulkan kanker bila terdapat dalam konsentrasi tinggi.
f.        Suara
Kontak dengan suara yang bising dalam waktu lama dapat menimbulkan kerusakan organ pendengaran. Kerusakan organ tersebut dapat bersifat permanen, misalnya menjadi tuli. Selain berdampak pada organ pendengaran, polusi suara juga dapat memengaruhi sistem tubuh lainnya. Suara yang bising dapat menyebabkan gangguan pada jantung, sakit kepala, dan stres secara psikologis.
2.        Asbut      
Asbut adalah singkatan dari kata asap dan kabut. Istilah asbut diadaptasi dari bahasa Inggris smog (singkatan dari kata smoke dan fog). Istilah ini muncul sekitar awal abad ke-20, ketika asap dan kabut tebal tampak di kota London akibat revolusi industri besar-besaran di kota tersebut. Berdasarkan jenis polutan penyebabnya, asbut dapat dibedakan menjadi asbut industri dan asbut fotokimia. Polutan utama penyebab asbut industri adalah sulfur oksida dan materi partikulat yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil oleh industri. Materi partikulat yang terkandung dalam asbut industri menyebabkan warnanya tampak keabuan. Asbut inilah yang sering terlihat keluar dari cerobong asap pabrik. Polutan utama penyebab asbut fotokimia adalah nitrogen oksida yang berasal dari kendaraan bermotor dan hidrokarbon yang berasal dari berbagai sumber. Kedua polutan ini akan mengalami reaksi fotokimia membentuk ozon. Ozon tersebut juga dapat bereaksi dengan berbagai polutan udara lainnya membentuk ratusan jenis polutan sekunder yang berbahaya bagi kesehatan. Nitrogen oksida menyebabkan asbut fotokimia tampak berwarna kecoklatan. Asbut fotokimia sering terlihat di langit kota-kota besar, seperti Jakarta. Asbut dapat mengganggu penglihatan sehingga menghambatl berbagai aktivitas manusia, misalnya penerbangan. Selain itu, asbut juga mengganggu pernapasan sehingga dapat menimbulbl kematian. Contoh akibat asbut yang fatal adalah asbut industri I yang timbul pada tahun 1952 di kota London, yang menyebabkanl sekitar 12.000 orang meninggal. Di Indonesia, kasus asbut cukupl sering terjadi, misalnya akibat kebakaran hutan di Kalimantan danl Sumatra atau karena banyaknya pabrik dan kendaraan bermotor I di kota-kota besar Indonesia.
3.        Hujan Asam
Hujan sebenarnya secara alami bersifat asam (pH sedikitdi bawah 6,0 karena CO2 dengan uap air di udara membentuk asam lemah yang bermanfaat untuk melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan hewan). Namun, berbagai polutan udara dapat meningkatkan keasaman air hujan, sehingga disebut hujan asam. Hujan asam didefinisikan sebagai hujan dengan pH di bawah 5,6. Polutan yang menyebabkan hujan asam adalah nitrogen oksida dan sulfur dioksida. Zat-zat ini di atmosfer akan bereaksi dengan uap air untuk membentuk asam sulfat, asam nitrat, dan asam nitrit yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan.
Dampak dari hujan asam di antaranya adalah :
       Mempengaruhi kualitas air permukaan bagi biota yang hidup di dalamnya. Suatu penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang erat antara penurunan pH dengan penurunan populasi ikan dan biota air lainnya di perairan.
       Merusak tanaman. Hujan asam dapat merusak jaringan tanaman sehingga menghambat pertumbuhannya dan dapat menyebabkan kematian.
       Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah, sehingga memengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan. Air yang telah tercemar logam berat jika dikonsumsi dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.
       Bersifat korosif, sehingga merusak berbagai bahan logam seperti mobil dan pagar, monumen dan patung atau komponen bangunan.
       Menyebabkan penyakit pernapasan.
       Pada ibu hamil, dapat menyebabkan bayi lahir prematur dan meninggal.
4.        Pemanasan Global
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya suhu rata-rata bumi. Pemanasan global terjadi akibat efek rumah kaca yang ditimbulkan oleh gas-gas rumah kaca. Efek rumah kaca merupakan peristiwa tertahannya atau terperangkapnya panas matahari di lapisan atmosfer bumi bagian bawah oleh gas-gas rumah kaca yang membentuk lapisan di atmosfer. Gas-gas rumah kaca tersebut memerangkap panas di bumi dengan cara menyerap panas matahari dan memantulkannya kembali ke bumi. Seharusnya, sebagian besar panas matahari dipantulkan ke luar angkasa. Hal ini menyebabkan suhu bumi meningkat sehingga terjadi pemanasan global. Gas-gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global meliputi berbagai polutan udara, seperti karbon dioksida (CO,), metan (CH4), nitrat oksida (N20), hidrofluorokarbon (HFC), dan klorofluorokarbon (CFC). Jumlah gas-gas ini terus meningkat setiap tahun di atmosfer akibat berbagai aktivitas manusia. Suhu bumi terus meningkat seiring'dengan peningkatan emisi gas-gas rumah kaca. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2007 menunjukkan bahwa saat ini telah terjadi peningkatan suhu bumi yang signifikan. IPCC juga menyimpulkan bahwa peningkatan tersebut sangat mungkin disebabkan oleh aktivitas manusia yang menyebabkan peningkatan jumlah gas-gas rumah kaca di atmosfer. Terjadinya peningkatan suhu bumi akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan meningkatkan suhu air laut. Dampak lebih lanjut dari pemanasan global di antaranya sebagai berikut :
       Menambah volume air laut sehingga permukaan air laut akan naik.
       Menimbulkan banjir di daerah pantai.
       Dapat menenggelamkan pulau-pulau dan kota-kota besar yang berada di tepi laut.
       Meningkatkan penyebaran penyakit menular.
       Curah hujan di daerah yang beriklim tropis akan lebih tinggi dari normal.
       Tanah akan lebih cepat kering, walaupun sering terkena hujan. Kekeringan tanah ini akan mengakibatkan banyak tanaman mati. Dengan demikian, di beberapa tempat dapat mengalami kekurangan makanan.
       Akan sering terjadi angin besar di berbagai tempat.
       Berpindahnya hewan ke daerah yang lebih dingin.
       Musnahnya hewan dan tumbuhan, termasuk manusia, yang tidak mampu berpindah atau beradaptasi dengan suhu yang lebih tinggi.
Meningkatnya suhu global juga diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan lain, seperti meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Intensitas dan pola musim hujan yang makin menyimpang di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, telah mengindikasikan terjadinya perubahan iklim dunia akibat pemanasan global. Selain itu, laporan IPCC tahun 2007 juga menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan permukaan air laut sejak tahun 1961 dengan rata-rata peningkatan 1,8 mm/tahun dan sejak tahun 1993 menjadi 3,1 mm/tahun.Terjadinya pencairan es dan salju juga terbukti dengan melihat penurunan luas cakupan es dan salju di kutub utara,yaitu sebanyak ± 2,7% per dekade (10 tahun).
5.        Penipisan Ozon di Lapisan Stratosfer
Ozon di lapisan stratosfer memiliki peran penting dalam menyerap radiasi sinar UV (ultraviolet) yang dipancarkan matahari ke bumi. Sejumlah senyawa polutan dapat menghancurkan ozon tersebut sehingga jumlahnya berkurang. 1 Senyawa yang dapat menghancurkan ozon adalah senyawa yang mengandung unsur klorin (Cl) dan bromin (Br). Contoh senyawa yang paling dikenal sebagai penyebab penipisan ozon adalah klorofluorokarbon (CFC) yang berasal terutama clari aerosol, lemari pendingin, dan pendingin udara (AC). Senyawa lain yang I juga dapat menyebabkan penipisan ozon adalah metil bromida 1 yang dapat ditemukan dalam pestisida dan metil kloroform serta I karbon tetraklorida yang banyak digunakan sebagai pelarutdi industri. Penipisan lapisan ozon menyebabkan sebagian besar radiasi I sinar UV terpancar ke permukaan bumi. Sinar UV memiliki dampak yang buruk terhadap makhluk hidup, di antaranya menimbulkan mutasi, kanker kulit, penyakit pada tumbuhan, dan I pada akhirnya menurunkan populasi makhluk hidup. Penipisan ozon yang sangat drastis telah teramati di wilayah I antartika antara tahun 1970 hingga 1990-an. Di wilayah ini, tingkat penipisan ozon sangatlah besar sehingga tampak seperti lubang. Pada tahun 1998, lubang ozon di wilayah antartika tercatat I telah mencapai luas 27,5 juta km2. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan populasi fitoplankton dan ikan-ikan di perairan antartika berhubungan langsung dengan penipisan ozon tersebut. Saat ini, upaya untuk mencegah terjadinya penipisan ozon lebih lanjut telah banyak dilakukan. Salah satunya dengan cara mengurangi produksi senyawa penghancur ozon seperti CFC.




B.       DAMPAK POLUSI AIR
Air merupakan salah satu komponen abiotik yang sangat penting bagi manusia dan makhluk hidup lain. Air yang telah tercemar akan sangat memengaruhi kualitas hidup makhluk hidup. Kamu mungkin pernah melihat sungai, danau, laut, atau perairan lain yang tercemar oleh sampah dan limbah. Bagaimana kondisinya? Perairan yang telah tercemar tentu akan sulit dimanfaatkan manusia karena airnya bau, keruh, atau mungkin mengandung bahan beracun. Biota air juga akan sulit kamu temukan di perairan yang tercemar. Coba kamu bandingkan kondisi perairan yang tercemar dengan yang masih bersih. Sebagian besar pencemaran air berasal dari polutan yang dihasilkan manusia. Ketika manusia mencemari air, tahukah bahwa pencemaran tersebut akan berdampak pada kehidupan manusia sendiri? Pada materi berikut ini kamu akan mempelajari dampak pencemaran air.
1.      Gangguan Kesehatan
Air yang telah tercemar, baik oleh senyawa organik maupun senyawa anorganik akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan karena mudah menjadi media berkembangnya berbagai macam penyakit. Pencemaran air dapatterjadi di air yang tergenang (tidak mengalir), air yang mengaiir di permukaan, atau air tanah. Berikut ini berbagai jenis penyakit yang dapat ditimbulkan oleh pencemaran air.
a.      Penyakit menular
Penyakit menular akibat pencemaran air dapat terjadi karena berbagai macam sebab, antara lain karena alasan berikut :
       Air yang tercemar dapat menjadi media bagi perkembangbiakan dan persebaran mikroorganisme, termasuk mikroba patogen.
       Air yang telah tercemar tidak dapat lagi digunakan sebagai pembersih, sedangkan air bersih sudah tidak mencukupi sehingga kebersihan manusia dan lingkungannya menjadi tidak terjamin, yang pada akhirnya menyebabkan manusia mudah terserang penyakit.
Air yang tercemar oleh limbah organik, terutama yang berasal dari industri pengolahan makanan dan kotoran manusia atau hewan merupakan tempat yang subur untuk perkembangbiakan mikroorganisme. Mikroorganisme patogen yang berkembang biak dalam air menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit menular.
b.        Penyakit tidak menular
Walaupun disebut penyakit tidak menular, penyakit ini tetap merupakan bahaya besar karena dapat mengakibatkan kematian. Penyakit tidak menular dapat muncul terutama karena air telah tercemar oleh senyawa anorganik, seperti logam berat. Namun, ada juga senyawa organik yang dapat menimbulkan penyakit, terutama yang mengandung unsur klorin (CI), seperti DDT dan PCB. Polutan-polutan ini dapat menimbulkan penyakit karena sifatnya beracun bagi tubuh. Beberapa polutan atau pencemar air tersebut adalah sebagai berikut.
Kadmium (Cd)
Kadmium adalah logam berat yang digunakan oleh banyak industri dalam proses produksinya. Contohnya, pabrik pipa PVC, pabrik pembuatan karet, dan pabrik kaca. Logam Cd dapat terserap tubuh manusia, dan akan terakumulasi atau terkumpul di organ-organ tubuh, terutama di ginjal dan hati. Hanya sebagian kecil dari logam ini yang dapat terbuang melalui pencemaan. Keracunan kadmium dapat memengaruhi otot polos pembuluh darah. Akibatnya, tekanan darah menjadi tinggi dan dapat menyebabkan gagal jantung. Keracunan kadmium juga dapat mengakibatkan kerusakan pada organ ginjal dan hati.
Kobalt (Co)
Logam kobalt banyak digunakan dalam industri sebagai bahan campuran untuk pembuatan mesin pesawat, magnet, alat pemotong atau penggiling, serta untuk pewarna kaca, keramik, dan cat. Pada manusia, Co dibutuhkan sedikit dalam proses pembentukan sel darah merah dan diperoleh melalui vitamin B . Keracunan kobalt dapatterjadi apabila tubuh menerima kobalt dalam konsentrasi tinggi (150 ppm atau lebih). Kobalt di tubuh manusia dalam jumlah banyak akan merusak kelenjar tiroid (gondok) sehingga penderita akan kekurangan hormon yang dihasilkan kelenjar tersebut. Kobalt juga dapat menyebabkan gagal jantung dan edema (pembengkakan jaringan akibat akumulasi cairan dalam sel).


Merkuri (Hg)
Merkuri yang mencemari air sebagian besar berasal dari limbah yang dihasilkan manusia. Manusia menggunakan merkuri untuk berbagai proses industri, seperti proses pembuatan klorin, Selain itu, merkuri juga terdapat pada baterai, cat, plastik, termometer, lampu tabung, kosmetik, dan hasil pembakaran batu bara. Logam merkuri sifatnya terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup. Tubuh manusia menerima merkuri terutama dari konsumsi hewan-hewan air yang telah tercemar merkuri. Efek merkuri terhadap kesehatan manusia bermacam-macam. Pada wanita hamil, merkuri dapat menyebabkan janin menjadi cacat mental. Tubuh yang terpapar merkuri untuk waktu yang lama dapat mengalami kerusakan ginjal, saraf, dan jantung. Pada konsentrasi rendah, merkuri dapat menimbulkan sakit kepala, depresi, dan perubahan perilaku. Kasus keracunan merkuri yang mungkin paling sering kamu dengar adalah kasus Teluk Minamata di Jepang pada sekitar tahun 1950 - 1970. Teluk Minamata tercemar oleh merkuri yang berasal dari limbah suatu pabrik yang dibuang ke teluk itu. Pencemaran ini berlangsung puluhan tahun dan menyebabkan ribuan penduduk sekitar mengalami gangguan kesehatan yang permanen.
Timbal (Pb)
Pencemaran air oleh logam Pb dapat berasal dari berbagai sumber, seperti rembesan Pb dari sampah kaleng yang mengandung timbal, cat yang mengandung timbal, bahan bakar bertimbal, pestisida, dan dari korosi pipa-pipa yang mengandung timbal. Logam Pb dengan konsentrasi > 15 mg/dl dalam darah dianggap berbahaya bagi kesehatan. Pada wanita hamil, keracunan Pb dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, atau kematian janin. Pada anak-anak, timbal dapat menyebabkan kecacatan mental dan gangguan fisik. Pada orang dewasa, keracunan timbal meningkatkan resiko terkena hipertensi (tekanan darah tinggi).
Senyawa Organik Berklorin
Contoh senyawa organik berklorin adalah dikloro-difenil-trikloroetana (DDT), aldrin, heptaklor, dan klordan yang semuanya banyak digunakan sebagai pestisida. Di Indonesia, DDT juga banyak digunakan untuk membasmi nyamuk malaria. Selain pestisida, senyawa kimia industri juga ada yang merupakan senyawa organik berklorin, contohnya poliklorinasi bifenil (PCB) dan dioksin. Senyawa-senyawa organik berklorin berbahaya bagi tubuh karena sifatnya persisten di alam dan terakumulasi dalam tubuh. Senyawa-senyawa ini dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ, terutama hati dan ginjal, serta beberapa diteliti dapat menimbulkan kanker.
Beberapa senyawa organik berklorin, seperti DDT dan PCB, dapat mengalami magnifikasi biologi saat memasuki rantai makanan. Artinya, senyawa tersebut terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup dan konsentrasinya terus meningkat pada makhluk hidup yang berada di posisi lebih atas pada rantai makanan. Hal ini berarti, manusia sebagai salah satu makhluk hidupyang menempati posisi teratas pada rantai makanan sangat beresiko menerima senyawa-senyawa tersebut dalam konsentrasi yangbesar.
2.      Air Tidak Bermanfaat Sesuai Peruntukkannya
Air banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti keperluan rumah tangga, perkantoran, industri, pertanian, peternakan, dan perikanan. Pencemaran air oleh berbagai jenis polutan akan menyebabkan air tidak dapat lagi digunakan untuk berbagai keperluan tersebut. Berikut ini beberapa contohnya.
a.    Air tidak dapat lagi digunakan untuk keperluan rumah tangga
Pencemaran air oleh berbagai jenis limbah akan menyebabkan air berbau dan keruh serta dapat mengandung kuman atau zat berbahaya. Air yang tercemar ini tentu tidak akan dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari manusia, seperti untuk minum, memasak, mandi, dan mencuci. Meskipun demikian, masih banyak juga penduduk Indonesia yang terpaksa menggunakan air seperti ini karena tidak sanggup mendapatkan air bersih. Kamu dapat melihat kondisi tersebut di berbagai pemukiman kumuh. Akibatnya, kualitas hidup menurun dan banyak timbul berbagai penyakit serta gangguan kesehatan.
b.   Air tidak dapat lagi digunakan untuk keperluan industri
Sebagian besar industri juga membutuhkan air dalam proses produksinya. Air yang telah tercemar dapat menyebabkan proses produksi terhambat karena air tidak dapat lagi digunakan. Misalnya, air yang telah tercemar minyak tidak dapat digunakan sebagai pelarut di industri kimia.
c.    Air tidak dapat lagi digunakan untuk keperluan pertanian dan perikanan
Di pertanian dan perikanan, air digunakan untuk irigasi dan kolam perikanan. Pencemaran air, misalnya oleh senyawa anorganik, akan menyebabkan air tidak dapat digunakan lagi. Hal ini disebabkan senyawa anorganik dapat mengubah pH perairan secara drastis. Perubahan pH tersebut dapat mematikan hewan dan tanaman. Selain itu, beberapa senyawa anorganik sifatnya beracun bagi hewan atau tanaman.
3.      Menurunnya Populasi Berbagai Biota Air
Berbagai biota air, seperti ganggang, ikan, udang, kerang, dan terumbu karang, merupakan sumber daya yang sangat penting bagi manusia. Menurunnya populasi biota ini akan membawa kerugian besar, baik secara langsung berupa kekurangan sumber pangan dan bagi sebagian orang berarti kehilangan mata pencaharian, ataupun secara tidak langsung berupa gangguan dalam keseimbangan ekosistem. Penurunan populasi biota air secara drastis dapat disebabkan olehbencana alam. Namun, kenyataannya hal ini terutama disebabkan oleh polusi yang ditimbulkan manusia. Beberapa polutan yang sifatnya berbahaya bagi biota air di antaranya adalah nutrien tumbuhan, limbah yang membutuhkan oksigen, minyak, sedimen, dan panas.
a.    Nutrien tumbuhan
Nutrien tumbuhan akan menjadi polutan air apabila terdapat dalam jumlah berlebihan di perairan. Perairan yang mengandung nutrien seperti fosfat dan nitrogen dalam jumlah berlebih disebut mengalami eutrofikasi. Eutrofikasi akan menyebabkan ganggang (algae) berkembang biak dengan subur sehingga populasinya meningkat pesat. Kejadian ini sering disebut algae blooming. Algae blooming dapat menyebabkan beberapa gangguan di perairan, di antaranya adalah mengganggu penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan karena permukaannya tertutupi oleh populasi ganggang. Hal ini akan mengganggu kehidupan biota air dalam perairan tersebut. Selain itu, jika ganggang yang mengalami blooming merupakan jenis ganggang yang menghasilkan senyawa beracun, ganggang tersebut akan menyebabkan kematian sejumlah besar biota air. Kemudian, ketika ganggang yang mengalami blooming mati, sel-selnya akan turun ke dasar perairan dan mengalami pembusukan. Akibatnya, terjadi peningkatan populasi bakteri pembusuk yang membutuhkan banyak oksigen. Hal ini akan meningkatkan kebutuhan oksigen/BOD (Biological Oxygen Demand) di perairan. BOD yang meningkat akan menurunkan kadar oksigen terlarut/DO (Dissolved Oxygen) di perairan sehingga biota air yang tidak toleran terhadap kondisi DO rendah akan mengalami penurunan populasi.
b.   Limbah yang membutuhkan oksigen
Seperti eutrofikasi, pencemaran air oleh limbah yang membutuhkan oksigen juga akan menyebabkan peningkatan BOD diperairan akibattingginya populasi bakteri aerob (membutuhkan oksigen) yang membusukkan limbah. Peningkatan BOD akan menurunkan DO perairan sehingga menurunkan populasi biota air yang tidaktoleran terhadap kandungan DO yang rendah.
c.    Minyak
Pencemaran minyak banyak terjadi di lautan atau pantai. Pencemaran minyak di perairan dapat menyebabkan kematian bagi banyak jenis biota air, seperti terumbu karang. Kematian ini disebabkan adanya senyawa dalam minyak yang sifatnya beracun bagi biota air tersebut. Tumpahan minyak di perairan juga dapat menempel dan menyelubungi bulu-bulu pada burung serta rambut pada mamalia air sehingga mengganggu fungsi fisiologis bulu atau rambut tersebut. Contoh gangguan fisiologis yang dapat terjadi adalah hilangnya kemampuan mengapung atau kemampuan menjaga suhu tubuh sehingga hewan dapat mati karena tenggelam atau karena kehilangan panas tubuh secara drastis.
d.   Sedimen
Pencemaran sedimen di perairan dapat menyebabkan air menjadi keruh sehingga mengurangi jarak penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan. Hal ini akan menyebabkan kemampuan fotosintesis ganggang dan tumbuhan air menurun sehingga populasinya berkurang. Ganggang dan tumbuhan air merupakan produsen di rantai makanan perairan sehingga penurunan populasinya akan mengakibatkan penurunan populasi biota air lainnya. Sedimen juga dapat menyumbat aliran air, membawa endapan senyawa toksin, dan menutupi terumbu karang serta makhluk hidup lain di dasar perairan.
e.    Panas
Polusi panas atau termal dapat menyebabkan perubahan suhu perairan secara drastis. Hal ini akan mengakibatkan kematian berbagai biota air yang tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan suhu tersebut. Panas juga dapat menurunkan DO di perairan.

C.      DAMPAK POLUSI TANAH
1.    Tempat Pembuangan
Tempat pembuangan sampah (limbah), baik tempat pembuangan akhir (TPA) maupun pembuangan sementara, akan menimbulkan berbagai dampak polusi. Secara langsung, limbah ditempat pembuangan akan menimbulkan polusi pada tanah. Berbagai jenis limbah tertumpuk di tempat pembuangan, seperti limbah padat, cair, organik, dan anorganik. Semua limbah lersebut, terutama limbah padat yang sifatnya sulit terurai, akanmenumpuk selama bertahun-tahun sehingga memerlukan ketersediaan lahan yang luas. Hal ini tentu menyulitkan, mengingat manusia semakin kekurangan lahan. Lahan sekitar tempat pembuangan juga akan menjadi tidak ideal untuk permukiman, pertanian, ataupun aktivitas manusia lain, sebab tidak enak dilihat dari segi estetika dan juga dapat berbahaya bagi kesehatan. Limbah anorganik yang ada di tempat pembuangan mungkin saja mengandung senyawa beracun, misalnya logam berat. Senyawa beracun ini dapat meracuni makhluk hidup yang hidupdi tanah, seperti tumbuhan, mikroorganisme, dan cacing tanah. Limbah organik dapat menjadi tempat berkembang biak berbagai bakteri pembusuk, yang mungkin saja menyebabkan penyakit. Selain bakteri, hewan penyebar penyakit lain, seperti nyamuk, lalat, dan tikus, juga dapat berkembang biak di tempat pembuangan sampah. Secara tidak langsung, limbah di tempat pembuangan dapat menjadi sumber polusi air dan udara. Limbah cair yang dibuang ketempat pembuangan dapat merembes dan bercampur dengan air tanah atau terbawa aliran air ke sungai atau danau sehingga menimbulkan polusi air. Hujan juga dapat melarutkan senyawa-senyawa polutan yang terkandung dalam limbah padat. Polusi udara yang dapat timbul melalui tempat pembuangan adalahgas metan (CH4) yang dihasilkan melalui pembusukan limbah organik oleh bakteri. Gas metan merupakan gas yang berbau tidaksedap sehingga akan mengganggu manusia. Selain itu, gas metan merupakan salah satu gas rumah kaca.
2.    Lingkungan Pertanian
Polusi tanah yang terjadi di lingkungan pertanian terutama j disebabkan oleh penggunaan pestisida kimia, pupuk, dan irigasi. Pestisida, selain dapat membunuh hama pengganggu, juga dapat membunuh biota tanah yang bermanfaat bagi kesuburan tanah, seperti cacing tanah dan mikroorganisme. Pupuk yang digunakan berlebihan dapat menjadi racun bagi tanaman. Selain dampak terhadap kualitas tanah, pestisida dan pupuk juga dapat menjadi polutan di air jika terbawa oleh aliran air ke perairan. Proses irigasi dapat menyebabkan tanah mengalami salinisasi, yaitu peningkatan kadar garam. Kadar garam yang terlalu tinggi pada tanah juga dapat menjadi racun bagi tanaman.

PENGANGANAN LIMBAH


A.      PENANGANAN LIMBAH CAIR
Pernahkah kamu mendengar mengenai Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). IPAL merupakan sebutan bagi fasilitas pengolahan limbah cair/air limbah yang dibuang masyarakat ataupun industri. Setiap industri yang menghasilkan limbah pencemar seharusnya memiliki fasilitas IPAL. Daerah pemukimanl atau perkotaan juga idealnya memiliki IPAL yang dapat menangani limbah domestik. fungsi IPAL yaitu limbah cair diolah melalui berbagai proses untuk menghilangkan atau mengurangi bahan-bahan pencemar (polutan) yang terkandung dalam limbah sehingga tidak melebihi baku mutu. Setelah melalui proses pengolahan, air limbah diharapkan dapat dibuang ke lingkungan dengan aman. Metode dan tahapan proses pengolahan limbah cair yang telah dikembangkan sangat beragam. Limbah cair dengan kandungan polutan yang berbeda kemungkinan akan membutuhkan proses pengolahan yang berbeda pula. Berikutini akan kamu pelajari beberapa proses pengolahan limbah cairyang telah diaplikasikan secara umum. Perlu kamu ketahui bahwa proses-proses pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara keseluruhan, berupa kombinasi beberapa proses, atau hanya salah satu. Proses pengolahan tersebut juga dapat dimodifikasi, sesuai dengan kebutuhan atau faktor finansial.

1.    Pengolahan Primer (Primary Treatment)
Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan secara fisika. Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji saring (bar screen). Metode ini disebut penyaringan screening). Metode penyaringan merupakan cara yang efisien danmurah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah. Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan ke suatu tangki atau bak yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa Inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel-partikel pasir jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya. Kedua proses yang dijelaskan di atas sering disebut juga sebagai tahap pengolahan awal (pretreatment). Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang paling banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di tangki pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel-partikel padat yangtersuspensi dalam air limbah dapat mengendap ke dasar tangki. Endapan partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain metode pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (flotation). Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak. Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan gelembung-gelembung udara berukuran kecil (± 30-120 mikron). Gelembung udara tersebut akan membawa partikel-partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan. Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui proses pengolahan primer, maka limbah cair yang telah mengalami pengolahan primer tersebut dapat langsung dibuang ke lingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga mengandung polutan lain yang sulit dihilangkan melalui proses di atas, misalnya agen penyebab penyakit atau senyawa ' organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya.

2.    Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)
Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis, yaitu dengan melibatkan mikroorganismeyang dapat mengurai/mendegradasi bahan organik. Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob. Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan, yaitu metode penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan metode kolam perlakuan (treatment ponds/lagoons).


a.        Metode trickling filter
Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan organik melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan batu atau plastik, dengan ketebalan ± 1 -3 m. Limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan media dan dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudian disalurkan ke tangki pengendapan. Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan untuk memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang terbentuk akan mengalami proses pengolahan lebih lanjut, sedangkan air limbah akan dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan.
b.        Metode activated sludge
Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan ke sebuah tangki dan di dalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi berlangsung di dalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian gelembung udara untuk aerasi (pemberian oksigen). Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah. Selanjutnya, limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan kembali ke tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter, limbah yangtelah melalui proses ini dapat dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih diperlukan.
c.         Metode treatment ponds/lagoons
Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode yang murah namun prosesnya berlangsung relatif lambat. Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka. Algae yang tumbuh di permukaan kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aerob untuk proses penguraiani degradasi bahan organik dalam limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga diaerasi. Selama proses degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan di dasar kolam, air limbah dapat disalurkan untuk dibuang ke lingkungan atau diolah lebih lanjut.

3.    Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder masih terdapat zat tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat. Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat yang tersisa dalam limbah cair/air limbah. Umumnya zat yang tidak dapat dihilangkan sepenuhya melalui proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam-garaman. Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment). Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan tersier yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir (sand filter), saringan multimedia, precoal filter, microstaining, vacum filter, penyerapan (adsorption) dengan karbon aktif, pengurangan besi danmangan, dan osmosis bolak-balik. Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah. Hal ini disebabkan biaya yang diperlukan untuk melakukan proses pengolahan tersier cenderung tinggi sehingga tidak ekonomis.

4.    Desinfeksi (Desinfection)
Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi mikroorganisme patogen (penyebab penyakit) yang ada dalam limbah cair/air limbah. Mekanisme desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam menentukan senyawa/zat untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: I  daya racun zat;
       waktu kontak yang diperlukan;
       efektivitas zat;
       kadar dosis yang digunakan;
       tidak boleh bersifat toksik (racun) terhadap manusia dan hewan;
       tahan terhadap air;
       biayanya murah.
Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi), penyinaran dengan sinar ultraviolet (UV), atau dengan ozon (O3). Proses disinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder, atau tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.

5.    Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder, maupun tersier, akan menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara langsung, melainkan perlu diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya akan diolah dengan cara diurai/ dicerna secara anaerob (anaerob digestion), kemudian disalurkan ke beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill), dijadikan pupuk kompos, atau dibakar (incinerated).

B.       PENANGANAN LIMBAH PADAT
Tahukah kamu berapa banyak sampah yang dihasilkan oleh seluruh penduduk Indonesia per hari? Data Kementrian Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa rata-rata jumlah sampah yang dihasilkan per hari di Indonesia pada tahun 2000 adalah sekitar 1 kg/kapita. Coba kamu kalikan jumlah sampah tersebut dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 200.000.000 orang. Hasilnya sangat besar bukan? Coba kamu kalikan lagi jumlah itu dengan banyaknya hari dalam setahun, kemudian dengan beberapa tahun. Tentu kamu akan mendapatkan angka ratusan juta ton. Pernahkah kamu berpikir, kemana perginya berton-ton sampah tersebut? Sampah yang dihasilkan manusia begitu banyak sehingga bila tidak ditangani akan menimbulkan banyak masalah pencemaran. Beberapa metode pengolahan sampah telah diterapkan manusia untuk menangani permasalahan sampah. Masing-masing metode tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan. Belum ada satupun dari metode yang telah diterapkan manusia yang dapat menyelesaikan permasalahan sampah dengan sempurna. Oleh karena itu, masih perlu terus dikembangkan berbagai metode baru atau modifikasi yang dapat menyempurnakan metode yang telah ada. Berikut akan kamu pelajari beberapa metode pengolahan limbah padat (sampah) yang telah umum diterapkan.

1.    Penimbunan
Terdapat dua cara penimbunan sampah yang umum dikenal, yaitu metode penimbunan terbuka (open clumping) dan metode sanitary landfill. Pada metode penimbunan terbuka, sampah dikumpulkan dan ditimbun begitu saja dalam lubang yang dibuat pada suatu lahan, biasanya di lokasi tempat pembuangan akhir (TPA). Metode ini merupakan metode kuno yang sebenarnya tidak memberikan banyak keuntungan. Di lahan penimbunan terbuka, berbagai hama dan kuman penyebab penyakit dapat berkembang biak. Gas metan yang dihasilkan oleh pembusukan sampah organik dapat menyebar ke udara sekitar dan menimbulkan bau busuk serta mudah terbakar. Cairan yang tercampur dengan sampah dapat merembes ke tanah dan mencemari tanah serta air. Bersama rembesan cairan tersebut, dapat terbawa zat-zat yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh metode open dumping menyebabkan dikembangkan metode penimbunan sampah yang lebih baik, yaitu sanitary landfill. Pada metode sanitary landfill, sampah ditimbun dalam lubang yang dialasi lapisan lempung dan lembaran plastik untuk mencegah perembesan limbah ke tanah. Sampah yang ditimbun dipadatkan, kemudian ditutupi dengan lapisan tanah tipis setiap hari. Hal ini akan mencegah tersebarnya gas metan yang dapat mencemari udara dan berkembangbiaknya berbagai agen penyebab penyakit. Pada landfill yang lebih modern lagi, biasanya dibuat sistem lapisan ganda (plastik - lempung - plastik - lempung) dan pipa-pipa saluran untuk mengumpulkan cairan serta gas metan yangterbentuk dari proses pembusukan sampah. Gas tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan listrik. Di sebagian besar negara maju, penimbunan sampah dengan metode open dumping telah banyak digantikan oleh metode sanitary landfill. Namun, di Indonesia, tempat penimbunan sampah yang menggunakan metode sanitary landfill masih jauh lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan yang melakukan penimbunan terbuka (open dumping). Kelemahan utama penanganan sampah dengan cara penimbunan adalah cara ini menghabiskan lahan. Sampah akan terus terproduksi sementara lahan untuk penimbunan akan semakin berkurang. Sampah yang ditimbun sebagian besar sulit terdegradasi sehingga akan tetap berada di area penimbunan untuk waktu yang sangat lama. Selain itu, meskipun telah menggunakan sanitary landfill, masih ada kemungkinan terjadi kebocoran lapisan sehingga zat-zat berbahaya dapat merembes dan mencemari tanah serta air. Gas metan yang terbentuk dalam timbunan mungkin saja mengalami akumulasi dan beresiko meledak.

2.    Insinerasi
Insinerasi adalah pembakaran sampah/limbah padat menggunakan suatu alat yang disebut insinerator. Kelebihan dari proses insinerasi adalah volume sampah berkurang sangat banyak (bisa mencapai 90 %). Selain itu, proses insinerasi menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik atau untuk pemanas ruangan. Meski demikian, tidak semua jenis limbah padat dapat dibakar dalam insinerator. Jenis limbah padat yang cocok untuk insinerasi di antaranya adalah kertas, plastik, dan karet, sedangkan contoh jenis limbah padat yang kurang sesuai untuk insinerasi adalah kaca, sampah makanan, dan baterai. Kelemahan utama metode insinerasi adalah biaya operasi yangmahal. Selain itu, insinerasi menghasilkan asap buangan yang dapat menjadi pencemar udara serta abu hasil pembakaran yangkemungkinan mengandung senyawa berbahaya.

3.    Pembuatan Kompos
Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik, seperti sayuran, daun dan ranting, serta kotoran hewan, melalui proses degradasi/penguraian oleh mikroorganisme tertentu. Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah dan menyediakan zat makanan yang diperlukan tumbuhan, sementara mikroba yang ada dalam kompos dapat membantu penyerapan zat makanan yang dibutuhkan tanaman. Pembuatan kompos merupakan salah satu cara terbaik untuk mengurangi timbunan sampah organik. Cara ini sangat cocok diterapkan di Indonesia, karena cara pembuatannya relatif mudah dantidak membutuhkan biaya yang besar. Selain itu, kompos dapatdijual sehingga dapat memberikan pemasukan tambahan atau bahkan menjadi alternatif mata pencaharian. Berdasarkan bentuknya, kompos ada yang berbentuk padat dan cair. Pembuatan kompos dapat dilakukan dengan menggunakan kompos yang telah jadi, kultur mikroorganisme, atau cacing tanah. Contoh kultur mikroorganisme yang telah banyak dijual di pasaran dan dapat digunakan untuk membuat kompos adalah EM4 (Effective Microorganism 4). EM4 merupakan kultur campuran mikroorganisme yang dapat meningkatkan degradasi limbah/sampah organik, menguntungkan dan bermanfaat bagi kesuburan tanah maupun pertumbuhan dan produksi tanaman, serta ramah lingkungan. EM4 mengandung mikroorganisme yangterdiri dari beberapa jenis bakteri, di antaranya Lactobacillus spv Rhodopseudomonas sp., Actinomyces spv dan Streptomyces sp., dan khamir (ragi), yaitu Saccaharomyces cerevisiae. Kompos yang dibuat menggunakan EM4 dikenai juga dengan sebutan bokashi. Kompos dapat juga dibuat dengan bantuan cacing tanah karena cacing tanah mampu menguraikan bahan organik. Kompos yang dibuat dengan bantuan cacing tanah dikenai juga dengan sebutan kascing. Cacing tanah yang dapat digunakan adalah cacing dari spesies Lumbricus terrestis, Lumbricus rebellus, Pheretima defingens, dan Eisenia foetida. Cacing tanah akan menguraikan bahan-bahan kompos yang sebelumnya sudah diuraikan oleh mikroorganisme. Keterlibatan cacing tanah dan mikroorganisme dalam pembuatan kompos menyebabkan pembentukan kompos lebih efektif dan lebih cepat.

4.    Daur Ulang
Berbagai jenis limbah padat dapat mengalami proses daur ulang menjadi produk baru. Proses daur ulang sangat berguna untuk mengurangi timbunan sampah karena bahan buangan diolah menjadi bahan yang dapat digunakan kembali. Contoh beberapa jenis limbah padat yang dapat didaur ulang adalah kertas, kaca, logam (seperti besi, baja, dan alumunium), plastik, dan karet. Bahan-bahan yang didaur ulang dapat dijadikan produk baru yangjenisnya sama atau produk jenis lain. Contohnya, limbah kertas bisa didaur ulang menjadi kertas kembali. Limbah kaca dalam bentuk botol atau wadah bisa didaur ulang menjadi botol atau wadah kaca kembali atau dicampur dengan aspal untuk menjadi bahan pembuat jalan. Kaleng alumunium bekas bisa didaur ulang menjadi kaleng alumunium lagi. Botol plastik bekas yang terbuat dari plastik jenis polyetilen terftalat (PET) bisa didaur ulang menjadi berbagai produk lain, seperti baju poliyester, karpet, dan suku cadang mobil. Gelas dan peralatan plastik bekas yang terbuat dari plastik jenis polystiren bisa didaur ulang menjadi produk-produk seperti hanger, pottanaman, dan mainan anak-anak. Ban karet bekas dapat didaur ulang menjadi bahan campuran untuk pembuatan jalan. Selain contoh di atas, masih terdapat berbagai produk lain yang dapat dihasilkan dari bahan daur ulang. Meskipun daur ulang sangat bermanfaat untuk menangani limbah padat, solusi ini masih memiliki kelemahan. Seperti halnya proses produksi lain, proses daur ulang masih menghasilkan polutan sebagai hasil sampingan/sisa proses daur ulang tersebut. Ditambah lagi, untuk jenis bahan tertentu proses daur ulang akan lebih memakan biaya dibandingkan proses produksi dengan bahan mentah. Kendala utama proses daur ulang adalah sulitnya memisahkan bahan-bahan yang akan didaur ulang dari sampah lain. Hal ini terjadi terutama di negara yang pembuangan sampahnya masih bercampur, seperti di Indonesia. Pada sebagian besar negara maju, penduduknya telah menerapkan pemisahan jenis sampah yang akan dibuang. Sampah sisa makanan yang mudah busuk, plastik, kertas, dan logam, masing-masing disediakan tempat pembuangan yang terpisah, sehingga memudahkan proses daur ulang. Namun, ada juga produk-produk tertentu yang memiliki kandungan berbagai bahan berbeda sehingga hampirtidak mungkin dipisahkan untuk didaur ulang. Misalnya, kemasan produk makanan yang tersusun atas lapisan kertas, plastik, dan alumunium. Bahan yang bercampur seperti ini tidak dapat di daur ulang.

C.      PENANGANAN LIMBAH GAS
Pengolahan limbah gas secara teknis dilakukan dengan menambahkan alat bantu yang dapat mengurangi pencemaran udara. Pencemaran udara sebenarnya dapat berasal dari limbah berupa gas atau materi partikulat yang terbawa bersama gas tersebut. Berikut akan dijelaskan beberapa cara menangani pencemaran udara oleh limbah gas dan materi partikulat yang terbawa bersamanya.
  1. Mengontrol Emisi Gas Buang
Gas-gas buang seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, dan hidrokarbon dapat dikontrol pengeluarannya melalui beberapa metode. Gas sulfur oksida dapat dihilangkan dari udara hasil pembakaran bahan bakar dengan cara desulfurisasi menggunakan filter basah (wet scrubber). Mekanisme kerja filter basah ini akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan berikutnya, yaitu mengenai metode menghiiangkan materi partikulat, karena filter basah juga digunakan untuk menghiiangkan materi partikulat. Gas nitrogen oksida dapat dikurangi dari hasil pembakaran kendaraan bermotor dengan cara menurunkan suhu pembakaran. Produksi gas karbon monoksida dan hidrokarbon dari hasil pembakaran kendaraan bermotor dapat dikurangi dengan cara memasang alat pengubah katalitik (catalytic converter) untuk menyempurnakan pembakaran. Selain cara-cara yang disebutkan di atas, emisi gas buang juga dapat dikurangi dengan cara mengurangi kegiatan pembakaran bahan bakar atau mulai menggunakan sumber bahan bakar alternatif yang lebih sedikit menghasilkan gas buang yang merupakan polutan.
  1. Menghilangkan Materi Partikulat dari Udara Pembuangan
a.    Filter udara
Filter udara adalah alat untuk menghilangkan materi partikulat padat, seperti debu, serbuk sari, dan spora, dari udara. Alat ini terbuat dari bahan yang dapat menangkap materi partikulat sehingga udara yang melewatinya akan tersaring dan keluar sebagai udara bersih (bebas dari materi partikulat). Filter udara dapat digunakan pada ventilasi ruangan atau bangunan, mesin atau cerobong pabrik, mesin kendaraan bermotor, atau pada area lain yang membutuhkan udara bersih. Jenis dan bahan yang digunakan sebagai filter udara bermacam-macam, tergantung pada kandungan udara yang disaring, misalnya apakah berdebu banyak, apakah bersifat asam atau alkalis, dan sebagainya.
b.   Pengendap siklon
Pengendap siklon atau Cyclone Separator adalah alat pengendap materi partikulat yang ikut dalam gas atau udara buangan. Prinsip kerja pengendap siklon adalah pemanfaatan gaya sentrifugal dari udara/gas buangan yang sengaja dihembuskan melalui tepi dinding tabung siklon sehingga partikel yang relatif berat akan jatuh ke bawah. Ukuran materi partikulat yang bisa diendapkan oleh alat ini adalah antara 5 - 40u. Makin besar ukuran partikel, makin cepat partikel tersebut diendapkan.
c.    Filter basah
Filter basah (wet scrubber) membersihkan udara yang kotor dengan cara menyalurkan udara ke dalam filter kemudian menyemprotkan air ke dalamnya. Saat udara kontak dengan air, materi partikulat padat dan senyawa lain yang larut air akan ikut terbawa air turun ke bagian bawah sedangkan udara bersih dikeluarkan dari filter. Air yang digunakan untuk menyemprot udara kotor juga dapat diganti dengan senyawa cair lain yang dapat bereaksi/melarutkan polutan udara. Contoh senyawa atau materi partikulat yang dapat dibersihkan dari udara dengan menggunakan filter basah adalah debu, sulfur oksida, amonia, hidrogen klorida, dan senyawa asam atau basa lain.
d.   Pengendap sistem gravitasi
Alat pengendap sistem gravitasi hanya dapat digunakan untuk membersihkan udara yang mengandung materi partikulat dengan ukuran partikel relatif besar, yaitu sekitar 50u atau lebih. Cara kerja alat ini sangat sederhana sekali, yaitu dengan mengalirkan udara yang kotor ke dalam alat yang dapat memperlambat kecepatan gerak udara. Saatterjadi perubahan kecepatan secara tiba-tiba (speed drop), materi partikulat akan jatuh terkumpul di bagian bawah alat akibat gaya beratnya sendiri (gravitasi).
e.    Pengendap elektrostatik
Alat pengendap elektrostatik (Electrostaticprecipitator) digunakan untuk membersihkan udara yang kotor dalam jumlah (volume) yang relatif besar dan pengotor udaranya umumnya adalah aerosol atau uap air. Alat pengendap elektrostatik ini menggunakan elektroda yang dialiri arus searah (DC). Udara kotor disalurkan ke dalam alat dan elektroda akan menyebabkan materi partikulat yang terkandung dalam udara mengalami ionisasi. Ion-ion kotoran tersebut akan ditarik ke bawah sedangkan udara bersih akan terhembus keluar.

D.      PENANGANAN LIMBAH B3
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) tidak dapat begitu saja ditimbun, dibakar, atau dibuang ke lingkungan, karena mengandung bahan yang dapat membahayakan manusia dan makhluk hidup Iain. Limbah ini memerlukan cara penangan yang lebih khusus dibanding limbah yang bukan B3. Limbah B3 perlu diolah, baik secara fisik, biologi, maupun kimia sehingga menjadi tidak berbahaya atau berkurang daya racunnya. Setelah diolah, limbah B3 masih memerlukan metode pembuangan yang khusus untuk mencegah resiko terjadi pencemaran. Beberapa metode penanganan limbah B3 yang umum diterapkan adalah sebagai berikut.
1.    Metode Pengolahan secara Kimia, Fisik, dan Biologi
Proses pengolahan limbah B3 dapat dilakukan secara kimia, fisik, atau biologi. Proses pengolahan limbah B3 secara kimia atau fisik yang umum dilakukan adalah stabilisasi/solidifikasi. Stabilisasi/solidifikasi adalah proses pengubahan bentuk fisik dan/atau sifat kimia dengan menambahkan bahan pengikat atau senyawa pereaksi tertentu untuk memperkecil/membatasi kelarutan, pergerakan, atau penyebaran daya racun limbah, sebelum dibuang. Contoh bahan yang dapat digunakan untuk proses stabilisasi/solidifikasi adalah semen, kapur (CaOH2), dan bahan termoplastik. Metode insinerasi (pembakaran) dapat diterapkan untuk memperkecil volume limbah B3. Namun saat melakukan pembakaran perlu dilakukan pengontrolan ketat agar gas beracun hasil pembakaran tidak mencemari udara. Proses pengolahan limbah B3 secara biologi yang telah cukup berkembang saat ini dikenal dengan istilah bioremediasi dan fitoremediasi. Bioremediasi adalah penggunaan bakteri dan mikroorganisme lain untuk mendegradasi/mengurai limbah B3, sedangkan fitoremediasi adalah penggunaan tumbuhan untuk mengabsorbsi dan mengakumulasi bahan-bahan beracun dari tanah. Kedua proses ini sangat bermanfaat dalam mengatasi pencemaran oleh limbah B3 dan biaya yang diperlukan lebih murah dibandingkan metode kimia atau fisik. Namun, proses ini juga masih memiliki kelemahan. Proses bioremediasi dan fitoremediasi merupakan proses alami sehingga membutuhkan waktu yang relatif lama untuk membersihkan limbah B3, terutama dalam skala besar. Selain itu, karena menggunakan makhluk hidup, proses ini dikhawatirkan dapat membawa senyawa-senyawa beracun ke dalam rantai makanan di ekosistem.
2.    Metode Pembuangan Limbah B3
a.    Sumur dalam/sumur injeksi (deep well injection)
Salah satu cara membuang limbah B3 agar tidak membahayakan manusia adalah dengan memompakan limbah tersebut melalui pipa ke lapisan batuan yang dalam, di bawah lapisan-lapisan air tanah dangkal maupun air tanah dalam. Secara teori, limbah B3 ini akan terperangkap di lapisan itu sehingga tidak akan mencemari tanah maupun air. Namun, sebenarnya tetap ada kemungkinan terjadi kebocoran atau korosi pipa, atau pecahnya lapisan batuan akibat gempa sehingga limbah merembes ke lapisan tanah.

b.   Kolam penyimpanan (surface impoundments)
Limbah B3 cair dapat ditampung pada kolam-kolam yang memang dibuat untuk limbah B3. Kolam-kolam ini dilapisi lapisan pelindung yang dapat mencegah perembesan limbah. Ketika air limbah menguap, senyawa B3 akan terkonsentrasi dan mengendap di dasar. Kelemahan metode ini adalah memakan lahan karena limbah akan semakin tertimbun dalam kolam, ada kemungkinan kebocoran lapisan pelindung, dan ikut menguapnya senyawa B3 bersama air limbah sehingga mencemari udara.
c.    Landfill untuk limbah B3 (secure landfill)
Metode secure landfill merupakan metode penyimpanan limbah B3 dalam wadah drum/tong kemudian dikubur dalam landfill yang didesain khusus untuk mencegah kebocoran limbah. Landfill dilengkapi dengan monitor yang khusus memantau kawasan landfill. Metode secure landfill merupakan metode yang membutuhkan biaya besar dan masih ada kemungkinan kebocoran sehingga tidak memberikan solusi penyimpanan dalam jangka waktu panjang.

TUGAS KELAS 11

·     Tugas Individu
1.        Jelaskan proses terbentuknya asbut industri dan asbut fotokimia !
2.        Sebutkan 5 kegiatan manusia yang menyebabkan polusi dilingkungan saat ini terus meningkat ?
3.        Jelaskan yang dimaksud polutan primer dan polutan sekunder ?
4.        Kenapa suara saat ini dikategorikan sebagai polusi  di lingkungan ?
5.        Berapakah batas suara yang masih aman untuk pendengaran manusia ?
6.        Jelaskan proses terjadinya hujan asam ?
7.        Jelaskan proses terjadinya pemanasan global ?
8.        Sebutkan akibat pemanasan global yang paling berpengaruh bagi kehidupan manusia?
9.        Sebutkan dampak berbahaya dari penipisan lapisan ozon ?
10.    Lengkapi tabel di bawah ini.
No
Nama Gas
Sumber Polusi
Akibat Polusi
Penanggulangan Polusi
1.
CO
……………..
………………….
……………………
2.
……..
Gas Buang Kendaraan/Pabrik
Global Warming
Menanam Pohon
3.
CFC
…………….
……………………
……………………
4.
…….
Kegiatan Pertanian
Eutrofikasi
Penggunaan Kompos
5.
Pb
………………….
…………………..
……………………

(Dikerjakan dalam buku tugas dan dikumpulkan)
·     Tugas Kelompok
·      Membuat Power Point per Kelompok
·      Membuat resume bahan power point
·      Maksimal jumlah Slide 15 slide
·      Dikumpulkan maksimal sehari sebelum presentasi
Hal-hal yang harus di bahas :
·      Pengertian
·      Proses/mekanisme terjadinya peristiwa tersebut
·      Penyebab terjadinya (Bahan/Kegiatan Manusia)
·      Akibat yang ditimbulkan
·      Penanggulangan/Pencegahan
·      Contoh peristiwa dari dampak yang di bahas

(Kelompok 1)
Bahasan tentang Pemanasan global (Global Warming)
(Kelompok 2)
Bahasan tentang Hujan Asam (Acid Rain)
(Kelompok 3)
Bahasan tentang Limbah Pertanian (Pupuk dan Pestisida)
(Kelompok 4)
Bahasan tentang Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL)
(Kelompok 5)
Bahasan tentang Kompos
(Kelompok 6)
Bahasan tentang Daur Ulang

0 komentar:

Poskan Komentar